Connect with us

Politik dan Pemerintahan

Kritik Konstruktif Miky Wenur soal “Hilangnya” Alokasi Pupuk Bersubsidi, Pemkot Malah ‘Acuh tak acuh’

Published

on

Calon Walikota Tomohon, Miky Wenur dan para Petani

TOMOHON, – Malangnya nasib Petani di Tomohon sangat memprihatikan. Pasalnya, kota didataran kaki gunung Lokon itu tidak memiliki alokasi pupuk bersubsidi.

Alhasil, petani Tomohon terpaksa cari pupuk subsidi di luar daerah, seperti Minahasa. Lantaran harus mengejar musim tanam untuk hasil tani.

Naasnya lagi, petani disusupi informasi palsu yang menyebut kelangkaan pupuk karena tidak mengambil (membeli) pupuk bersubsidi di tahun 2023, sehingga tahun 2024 tidak ada alokasi pupuk.

Padahal, ketidak adanya alokasi pupuk bersubsidi di Tomohon lantaran pemerintah kota (Pemkot) terlambat menginput data (link) kebutuhan e-RDKK sesuai batas waktu yang ditetapkan oleh Kementan RI.

Persoalan ini sudah pernah disentil anggota DPRD kota Tomohon Ir. Miky JL Wenur, MAP. Secara konstruktif, ia mengkritisi pejabat instansi teknis dalam hal ini Dinas Pertanian Kota Tomohon.

Tak disangka, kritik membangun yang dipaparkan Miky Wenur malah dicueki dan dialihkan kepersoalan lain oleh orang-orang tertentu, bahkan dituduh seakan mencari kesalahan.

Padahal, tujuan wakil Rakyat Miky Wenur dan Ladys Turang senantiasa berupaya mendudukan persoalan, agar tidak menyimpang dan tidak memangkas hak-hak yang merugikan rakyat petani.

Fakta lain, Miky Wenur yang merupakan ketua Pansus LKPJ Walikota dan Wakil Walikota Tomohon 2023 itu menyatakan kesesalanya soal anggaran pengalokasian.

Betapa tidak, anggaran sebesar 2 Miliar untuk 20 penerima bantuan screen host bagi petani bunga, ternyata telah digeser. Akibatnya, anggaran tersisa 1 Miliar, bahkan hanya tersalur untuk 8 penerima saja.

Parahnya, kata Anggota DPRD kota Tomohon Priscilla Tumurang, Petani bunga yang justru lebih berhak, malah tidak menerima.

“Padahal disatu sisi Tomohon berupaya untuk eksport bunga krisan ke luar negeri,” ungkap Priscilla Tumurang, Kamis (20/6/2024).

Dampak persoalan ini, dirasakan seorang Petani Jou Kalalo. Ia mengaku sulit bahkan tidak memperoleh pupuk bersubsidi di Tomohon.

“Terpaksa, kami menanam tanpa pupuk,” ungkap, Jou bersama dua rekannya Fintje dan Nelty, yang khawatir produksi hasil tani menurun seperti tanaman hortikultura.

Cara lain, ketiga petani yang hendak curhat ke Miky Wenur itu mengaku, mereka terpaksa mencari pupuk bersubsidi di luar daerah.

Senada pula dikatakan Ferdinand Turambi, dan Brury Sarese, petani asal Tomohon barat dan selatan itu mengaku perna membeli pupuk subsidi didaerah lain, tapi harganya agak mahal.

Akibatnya, hasil produksi tanam seperti padi dan jagung menurun. “Pendapatan kami berkurang, padahal untuk kebutuhan hidup keluarga,” ungkapnya sesal.

Atas kejadian itu, Miky Wenur yang adalah Calon Walikota Tomohon dari partai Golongan Karya (Golkar) berharap, kedepan tidak terulang lagi.

“Etos kerja dan sistim kerja harus ada perbaikan dan penyempurnaan, dengan demikian petani di Tomohon harus mendapat perhatian dan kepedulian untuk kemudahan memperoleh benih/bibit, alsintan, sarpras, ketersediaan pupuk pestisida dan organik,” tegas Miky Wenur.

Wanita cerdas itu mengingatkan, petani adalah ujung tombak dalam memenuhi kebutuhan perekonomian dan kesejahteraan keluarga.

“Petani, terdepan mewujudkan ketahanan, kemandirian dan kedaulatan pangan,” tutur Miky Wenur, yang dikenal santun, cerdas, merakyat.

Isteri dari Anggota DPD RI/MPR RI Senator Ir. Stefanus BAN Liow, MAP menekankan kritik konstruktif disertai solutif berbagai kebijakan program strategis bukan semata mencari-cari kesalahan.

“Ini niat baik untuk sama-sama memperbaiki dan menyempurnakan agar Tomohon Maju, Terpercaya dan Sejahtera,” tutup Miky Wenur.

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *